Jangan Tunggangi Gajah!

07 Mei, 2017dibaca normal 2:30 menit
Gajah bukan hewan domestik seperti kucing dan anjing, habitat natural mereka adalah alam liar.
tirto.idBagaimana cara berlibur di alam tanpa merusak lingkungan? Pertanyaan ini dulu pernah jadi perhatian saat foto-foto sampah di Cagar Alam Pulau Sempu di Malang muncul di media sosial. Banyak orang berpendapat bahwa semestinya ada perlindungan dan hukum khusus yang melindungi alam dari para pelancong. Katakanlah, misalnya, cagar alam mesti steril, sebab ia diisiapkan buat melindungi ekosistem.

Lantas bagaimana dengan taman safari atau taman hiburan alam lainnya? Berkembangnya pengetahuan mengubah cara pandang manusia tentang liburan, atraksi hewan liar, dan pariwisata berkelanjutan. Perjalanan ke alam liar memberi kita peluang untuk mengalami berbagai pengalaman kebudayaan, bertemu orang-orang baru, merasakan makanan-makanan unik yang lezat, dan mengenal lebih dekat alam serta hewan-hewan yang sebelumnya hanya kita saksikan di pelbagai tayangan dokumenter.

Belakangan, ada pengembangan wacana pariwisata yang etis terhadap hewan. Salah satu wujudnya ialah kampanye untuk tidak mengendarai gajah.

“Siapa yang tak suka menyaksikan perjalanan kawanan gajah? Gerak-gerik, keanggunan, kecerdasan mereka,” ujar Geoff Manchester, pendiri Intrepid Travel. “Celakanya, banyak turis yang gandrung dan membanggakan pengalaman mereka mengunggangi gajah tanpa tahu kisah kejam di baliknya.”

Jangan Tunggangi Gajah!

Geoff mengajak orang untuk kritis memahami bagaimana proses domestifikasi gajah menyakiti hewan pintar itu. “Gajah tak pernah didomestifikasi seperti anjing dan kuda. Meski lahir di penangkaran, gajah tetap hewan liar, dan orang harus menghancurkannya supaya ia dapat dikendarai turis dan melakukan pertunjukkan,” katanya.

Proses untuk menjinakkan dan membuat gajah bisa dikendarai seperti kuda kerap kali kejam dan menyakitkan. Menurut Geoff, banyak gajah yang terlatih dirantai agar ruang geraknya terbatas. Mereka kerap kali dipukul atau dilukai atas nama “disiplin.” Kekejian yang berlangsung terus-menerus memang mengubah perilaku gajah, tapi ini punya dampak buruk bagi gajah.

Gajah yang pernah menderita penyiksaan berlebih bisa tiba-tiba jadi agresif terhadap manusia. Di Thailand pernah ada kasus gajah mengamuk dan menginjak-injak seorang turis asal Inggris. Kasus serupa juga banyak ditemukan di India. Di luar pariwisata, gajah dan manusia juga kerap berebut lahan. Manusia membuat huma dan menggusur gajah, gajah menyerang kebun, dan manusia membalas dengan pembantaian.

Gerakan pariwisata etis dan berkelanjutan mengubah cara pandang turis terhadap liburan. Banyak turis yang senang karena diedukasi tentang kesejahteraan gajah, kemudian memilih alternatif liburan yang tak melanggengkan penindasan terhadap hewan-hewan. Namun, tentu ada banyak pula orang dan lembaga yang menolak menghentikan kekejaman mereka dengan alasan “kebudayaan.” Pemerintah Thailand, misalnya, pernah dikritik karena menolak mengakui penyiksaan terhadap gajah untuk pertunjukan.

Dalam laporan yang diterbitkan Vice, Charles Parkinson menunjukkan bagaimana pariwisata Thailand bergantung pada industri pariwisata gajah mereka. Untuk memiliki satu gajah terlatih, seseorang perlu mengeluarkan biaya hingga 50 ribu dolar, mahal, tetapi eksploitasi terhadap gajah itu bakal mendatangkan keuntungan berlipat.

Pelatihan agar seekor gajah dapat dikendalikan tak hanya menyakiti gajah itu sendiri. Gajah harus dilatih pada usia yang sangat muda, padahal induk gajah sangat protektif terhadap anak-anaknya. Jika pawang ingin mengambil anak gajah, mereka harus melewati induk gajah. Kadang, dalam kawanan, satu anak gajah dijaga oleh beberapa gajah dewasa. Di balik seekor gajah terlatih, ada kematian tiga ekor gajah lain.

Edwin Wiek, pendiri organisasi konservasi Wildlife Friends Foundation Thailand, menyebut saat ini ada 3 ribu ekor gajah yang aktif dalam industri pariwisata. Penyiksaan, katanya, tidak hanya terjadi saat pelatihan tetapi juga saat mereka telah menjadi bahan tontonan. Saat musim kawin tiba, misalnya, gajah jantan dewasa mesti dibius agar tidak mengamuk dan tetap dapat dikendalikan. Saat musim liburan tiba, gajah-gajah itu bekerja nyaris tanpa libur. Banyak yang kelelahan namun tetap dipaksa bekerja dan menghibur para turis.

Para pawang gajah yang disebut mahouts umumnya melatih gajah sejak mereka sendiri masih kanak-kanak, tetapi generasi baru mahouts tak punya tradisi menghormati gajah seperti para pendahulu mereka. Kebanyakan mahouts muda hanya memikirkan uang. Mereka hanya tahu jika gajah mereka melukis, main bola, atau ditunggangi, mereka akan segera dapat uang.

Proses pelatihan gajah yang disebut phajaan pun penuh rincian yang menggiriskan. Kalau tak menuruti perintah pelatihnya, para gajah dilukai dengan kait tajam, pisau, dan paku. Dari hari ke hari, mereka disiksa sampai benar-benar patuh kepada manusia. Umumnya, phajaan dimulai saat gajah berumur enam tahun. Yang mengerikan, penyiksaan itu tak dipedulikan karena turisme Thailand yang setiap tahun dapat mendatangkan 25 juta orang pengunjung membutuhkannya.

Penyiksaan terhadap hewan demi kesenangan manusia tentu tidak hanya dialami oleh gajah. Di banyak taman hiburan, hewan-hewan seperti singa juga dibius agar jinak dan bisa dipotret bersama manusia. Para pengelola turisme hewan seringkali tak menghormati musim kawin atau kondisi kesehatan hewan, dan hanya memikirkan cara terbaik buat mengeksploitasi mereka.

Sekali waktu, penulis Romania Emil Cioran menulis: “Dari seluruh makhluk hidup di dunia ini, hanya manusialah yang mengundang rasa jijik berkelanjutan.”

Advertisements

OLAHRAGA » PP PBSI Rilis Sususan Tim Inti Piala Sudirman 2017 PP PBSI Rilis Sususan Tim Inti Piala Sudirman 2017

Ada sekitar 20 atlet yang terpilih untuk memperkuat tim Merah-Putih antara lain 10 atlet putra dan 10 atlet putri.
tirto.idPengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) pada Kamis (4/5/2017) merilis daftar pemain yang tergabung dalam tim inti Piala Sudirman 2017. Kejuaraan beregu campuran bergengsi ini akan berlangsung di Gold Coast, Australia, pada 21 hingga 28 Mei 2017.

Ada sekitar 20 atlet yang terpilih untuk memperkuat tim Merah-Putih antara lain 10 atlet putra dan 10 atlet putri. Nama-nama pemain terbaik yang masuk dalam tim inti adalah Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Kendati demikian, nama Liliyana Natsir tak hadir dalam daftar tim putri, menurut Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susi Susanti mengatakan wanita yang akrab disapa Butet itu belum pulih dari cedera.

“Butet (Liliyana) cederanya masih belum pulih, sehingga kami memutuskan untuk mengganti posisinya dengan Gloria (Emanuelle Widjaja),” kata Susi Susanti dikutip dari laman Badminton Indonesia.

Lebih lanjut Susi menjelaskan, selain Butet, nama atlet putri lain yang tak masuk dalam daftar adalah Ni Ketut Mahadewi Istarani. Menurut Susi, kondisi Ketut masih belum sembuh total karena cedera lutut yang dialaminya.

Dalam beberapa turnamen sebelumnya, menurut dia, Ketut pernah mengalami sesak nafas. Melihat hal itulah hasil rapat tim akhirnya memutuskan memilih pemain muda Apriani Rahayu, untuk menggantikan Ketut.

Susi menjelaskan, di sektor putra, sektor tunggal putra mengirimkan dua perwakilan, sedangkan ganda putra ada sekitar tiga pasangan yang siap diturunkan.

“Kuota di ganda putra memang lebih banyak karena nomor ini adalah nomor andalan kami untuk menyumbang angka, istilahnya ganda putra wajib menang. Sedangkan tunggal putra masih 50-50 peluangnya,” kata Susi yang juga menjabat sebagai Manajer Tim Indonesia di Piala Sudirman 2017.

“Kalau di tim putri beda lagi, melihat susunan tunggal putri yang ada tiga pemain, kami pilih berdasarkan persiapan strategi dan data head to head dengan lawan,” lanjut Susi.

Ia mengatakan, dalam kejuaraan yang berlangsung dua tahun sekali ini, tim Indonesia ditarget minimal bisa menembus babak semifinal.

“Melihat rangking pemain Indonesia, capaian prestasi terakhir dan data bahwa tim Indonesia saat ini ada di urutan 5-8 dalam daftar unggulan, kami menargetkan babak semifinal, tetapi tentunya kami berharap bisa lebih dari itu,” pungkas Susi.

Untuk diketahui, tim Piala Sudirman akan dilepas pada Sabtu (6/5) di Pelatnas Cipayung, bertepatan dengan perayaan HUT PBSI ke-66.

Berikut susunan Tim Piala Sudirman 2017:

Manajer Tim : Susi Susanti

Putra
1. Jonatan Christie
2. Anthony Sinisuka Ginting
3. Kevin Sanjaya Sukamuljo
4. Marcus Fernaldi Gideon
5. Ricky Karanda Suwardi
6. Angga Pratama
7. Mohammad Ahsan
8. Rian Agung Saputro
9. Tontowi Ahmad
10. Praveen Jordan

Putri
1. Fitriani
2. Dinar Dyah Ayustine
3. Gregoria Mariska Tunjung
4. Greysia Polii
5. Della Destiara Haris
6. Rosyita Eka Putri Sari
7. Anggia Shitta Awanda
8. Apriani Rahayu
9. Debby Susanto
10. Gloria Emanuelle Widjaja

Pelatih Teknik
1. Hendry Saputra
2. Minarti Timur
3. Herry Iman Pierngadi
4. Eng Hian
5. Richard Mainaky

Pelatih Fisik
1. Felix Ary Bayu Marta
2. Ary Subarkah